Jumat, 10 Agustus 2007

Kelembagaan dan Lembaga dalam Pengembangan Agribisnis Pedesaan

(Pembaca perlu hati-hati membaca tulisan ini, yang saya tulis sudah agak lama. Untuk konsep yang lebih BENAR, silahkan baca tulisan saya yang lebih baru, ada dalam blog ini juga. Tks)

Tanpa sadar, kita sering mencampuradukkan antara “lembaga”, “kelembagaan”, “organisasi”, “institusi”, dan seterusnya. Akibatnya, banyak orang bingung sendiri: yang mau kita bangun “kelembagaannya” ataukah sebuah “lembaga” ?

“Kelembagaan” merupakan satu konsep yang tergolong membingungkan, dan dapat dikatakan belum memperoleh pengertian yang mantap dalam ilmu sosiologi. Dalam banyak literatur teoritis, baik berbahasa Inggris maupun Indonesia, istilah “kelembagaan” (social institution) selalu disilangkan dengan “organisasi” (social organization). Kedua kata ini sering sekali menimbulkan perdebatan di antara para ahli. “What contstitutes an ‘institution’ is a subject of continuing debate among social scientist….. The term institution and organixation are commonly used interchangeably and this contributes to ambiguityand confusion” (Norman Uphhof. 1986). “…belum terdapat istilah yang mendapat pengakuan umum dalam kalangan para sarjana sosiologi untuk menterjemahkan istilah Inggris ‘social institution’……. Ada yang menterjemahkannya dengan istilah ‘pranata’ ….. ada pula yang ‘bangunan sosial’” (Soemardjan dan Soemardi, 1964).

Meskipun belum sepakat, namun dapat diyakini bahwa kelembagaan adalah social form ibarat organ-organ dalam tubuh manusia yang hidup dalam masyarakat. Kata “kelembagaan” (Koentjaraningrat, 1997) menunjuk kepada sesuatu yang bersifat mantap (established) yang hidup (constitued) di dalam masyarakat. Suatu kelembagaan adalah suatu pemantapan perilaku (ways) yang hidup pada suatu kelompok orang. Ia merupakan sesuatu yang stabil, mantap, dan berpola; berfungsi untuk tujuan-tujuan tertentu dalam masyarakat; ditemukan dalam sistem sosial tradisional dan modern, atau bisa berbentuk tradisional dan modern; dan berfungsi untuk mengefisienkan kehidupan sosial.

Tiap kelembagaan memiliki tujuan tertentu, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki pola perilaku tertentu serta nilai-nilai dan norma yang sudah disepakati yang sifatnya khas. Kelembagaan adalah kelompok-kelompok sosial yang menjalankan masyarakat. Tiap kelembagaan dibangun untuk satu fungsi tertentu. Karena itu kita mengenal kelembagaan pendidikan, kelembagaan-kelembagaan di bidang ekonomi, agama, dan lain-lain. Dunia selalu berisi kelembagaan-kelembagaan, dan semua manusia pasti masuk dalam satu atau lebih kelembagaan. Dalam bidang pembangunan pedesaan dan pertanian, kelembagaan umumnya dipersempit terutama hanya menjadi kelembagaan kelompok tani, koperasi, subak, kelompok petani peserta program, dan kelompok pengrajin.

Sebagian besar literatur hanya membanding-banding apa beda “kelembagaan” dengan “organisasi”. Setidaknya ada empat bentuk cara membedakan yang terlihat selama ini, yaitu: (1) Kelembagaan cenderung tradisional, sedangkan organisasi cenderung modern (Uphhof, 1986). Menurut Horton dan Hunt: “... institution do not have members, they have followers” (Horton dan Hunt, 1984). (2) Kelembagaan dari masyarakat itu sendiri dan organisasi datang dari atas. Tjondronegoro: ”… lembaga semakin mencirikan lapisan bawah dan lemah, dan organisasi mencirikan lapisan tengah dengan orientasi ke atas dan kota” (Tjondronegoro, SMP. 1999). (3) Kelembagaan dan organisasi berada dalam satu kontinuum, dimana organisasi adalah kelembagaan yang belum melembaga (Uphoff, 1986). Pendapat ini sedikit banyak juga berasal dari dari Huntington yang menyatakan: “Organization and procedures vary in their degree of institutionalization……Institutionalization is the process by which organizations and procedures acquire value and stability” (Huntington, 1965). Serta, (4) Organisasi merupakan bagian dari kelembagaan (Binswanger dan Ruttan, 1978). Dalam konteks ini, organisasi merupakan organ dalam suatu kelembagaan. Keberadaan organisasi menjadi elemen teknis penting yang menjamin beroperasinya kelembagaan.

Apapun itu, pada prinsipnya, sesuatu sosial relation dapat disebut sebagai sebuah kelembagaan apabila memiliki empat komponen, yaitu adanya: (1) Komponen person. Orang-orang yang terlibat di dalam satu kelembagaan dapat diidentifikasi dengan jelas. (2) Komponen kepentingan. Orang-orang tersebut pasti sedang diikat oleh satu kepentingan atau tujuan, sehingga di antara mereka terpaksa harus saling berinteraksi. (3) Komponen aturan dan aturan. Setiap kelembagaan mengembangkan seperangkat kesepakatan yang dipegang secara bersama, sehingga seseorang dapat menduga apa perilaku orang lain dalam lembaga tersebut. Dan, (4) Komponen struktur. Setiap orang memiliki posisi dan peran, yang harus dijalankannya secara benar. Orang tidak bisa merubah-rubah posisinya dengan kemauan sendiri.

Agar tidak bikin bingung terus, saya mengajukan pengistilahan baru. Khusus untuk pengembangan agribisnis di pedesaan saya membedakan antara ”kelembagaan” dan ”lembaga” . Kelembagaan adalah sekumpulan jaringan dari relasi sosial yang melibatkan orang-orang tertentu, memiliki tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur. Kelembagaan dapat berbentuk sebuah relasi sosial yang melembaga (non formal institution), atau dapat berupa lembaga dengan struktur dan badan hukum (formal institution). Setidaknya ada 8 kelembagaan yaitu: (1) kelembagaan penyediaan input usahatani, (2) kelembagaan penyediaan permodalan, (3) kelembagaan pemenuhan tenaga kerja, (4) kelembagaan penyediaan lahan dan air irigasi, (5) kelembagaan usahatani, (6) kelembagaan pengolahan hasil pertanian, (7) kelembagaan pemasaran hasil pertanian, dan (8) kelembagaan penyediaan informasi (teknologi, pasar, dll). Tiap kelembagaan dapat dijalankan dengan dua cara, yaitu secara individual (berstruktur lunak) atau secara kolektif (berstruktur keras).

Lalu, lembaga atau dapat juga disebut ’organisasi’, adalah bentuk kelembagaan yang formal, dengan ciri memiliki struktur yang tegas dan diformalkan. Lembaga menjalankan fungsi kelembagaan, namun dapat satu atau lebih fungsi sekaligus. Contohnya adalah kelompok tani, klinik agribisinis, koperasi, dan lain lain. Kelompok tani misalnya, dapat menjalankan fungsi penyediaan saprotan sampai dengan pemasaran hasil pertanian.

Secara sederhana bedanya begini. Kata "kelembagaan" mesti diikuti oleh kata kerja, contohnya "kelembagaan penyediaan modal" dst. Sedangkan, "lembaga" selalu diikuti oleh kata benda, misalnya lembaga koperasi, lembaga Gapoktan, dst.

Maka, untuk kelembagaan penyediaan input usahatani misalnya dapat dijalankan lembaga kelompok tani, Gapoktan, KUAT, koperasi, dan UPJA. Kelembagaan penyediaan jasa informasi dapat dilakukan oleh petani secara individual, atau melalui lembaga, yaitu bisa kelompok tani, bisa Gapoktan, bisa Posyanluh Desa, Klinik Agribisnis, atau Kelompencapir.

Sementara, lembaga kelompok tani misalnya dapat menjalan ke-8 kelembagaan kecuali penyediaan lahan dan air irigasi mungkin. Sementara koperasi, juga dapat menjalankan banyak kelembagaan, mulai dari penyediaan input, penyediaan modal, pengolahan, dan pemasaran. Begitu seterusnya.

Jadi, jangan sampai salah. Kalo anda mau bikin lembaga di desa, jangan berpikir bikin lembaganya dulu, tapi lihat dulu kelembagaan apa yang bermasalah atau mau dikembangkan. Kalau tanpa lembaga (artinya secara indvidual saja sudah oke), kenapa harus repot-repot bikin lembaga baru. Bikin lembaga butuh waktu, dan tidak selalu segala urusan harus dikerjakan dalam lembaga. ********

7 komentar:

ARAH-HIDUPKU mengatakan...

pak, saya kagum dengan tulisan bapak, masih berpijaknya pada sistem agraria dimana saya bisa belajar banyak dari bapak...

saya minta saran dan jawaban dari bapak, bahwa saya kurang mengerti tentang pembentukan AD/ART koperasi tani di desa tolong bapak berikan contohnya biar saya bisa membentuknya untuk kepentingan koperasi tani desa....?

nama : erwin wiguna
mahasiswa Fakultas PErtanian
jurusan sosek/agribisnis

balas ke email aku..
dorek_87@yahoo.com

terimakasih

kijang mengatakan...

saya berminat mendapatkan buku :
"30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian". PT Bina Rena Pariwara, Jakarta. 2006."Bedah Konsep Kelembagaan". Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. 2003. Bisakah bapak membantu saya mendapatkan buku tersebut ?

kijang mengatakan...

Saya berminat mendapatkan buku "30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian". PT Bina Rena Pariwara, Jakarta. 2006.seserta "Bedah Konsep Kelembagaan". Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. 2003.

saya sedang studi S3 di Makassar pak, bisakah bapak membanu saya mendapatkan buku itu?

kijang mengatakan...

Saya berminat mendapatkan buku "30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian". PT Bina Rena Pariwara, Jakarta. 2006.seserta "Bedah Konsep Kelembagaan". Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. 2003.

saya sedang studi S3 di Makassar pak, bisakah bapak membanu saya mendapatkan buku itu?

blantara mengatakan...

Tulisan tentang kelembagaan web P. Syahyuti sangat menari. Kalau ada tulisan lain dalam membangun kelembagaan yang berbasis Daerah Aliran Sungai, kami mohon pendapat, kebetulan saya baru mempelajari hal tersebut.

Malik Muqtadir mengatakan...

keren banget artikelnya. bisa dijadikan refrensi penulisan artikel yang berjudul teori kelembagaan menurut pendapat para ahli dalam blog tipepedia

Harzanto Nuri mengatakan...

bingung untuk menyusun kuisioner penguatan kelembagaan ekonomi petani mohon petunjuk