Selasa, 19 Mei 2020

Buku (draft) BERTANI DAN BERDAGANG SECARA ISLAMI


Syahyuti. 2020. “BERTANI DAN BERDAGANG SECARA ISLAMI”. Seri Buku Sosial Ekonomi Pertanian Islam. Draft I – April 2020. Belum dipublish.

Buku ini mengisi kekosongan yang panjang pada bahan-bahan bacaan berkaitan dengan pertanian dan Islam, khususnya aspek relasi sosial di seputarnya, atau dalam bahasa agama kita sebut “muamalah-nya bertani”. Pula, buku ini memiliki mimpi besar mengawali dan mengenalkan berbagai konsep keilmuan yang kesannya begitu tabu kita diskursuskan selama ini. 
Beratus tahun kita berhenti pada “Ilmu Ekonomi”, “Ekonomi Pertanian”, dan “Ekonomi Islam”. Dunia belum nengenal frasa "Islamic Agricultural Socioeconomics", "Islamic Food Economy", "Islamic land reform", "Islamic agrarian reform", “Islamic Agricultural Sociology”, dan sejenisnya. Ya, kita sudah sangat akrab dengan Sosial Ekonomi Pertanian. Di buku ini lah Saya mengenalkan sesuatu yang mestinya sudah harus kita mulai bentuk, bicarakan, dan viralkan: SOSIAL EKONOMI PERTANIAN ISLAM.
Kita sudah terlalu lama hanya meng-copy paste belaka segala ilmu dari Barat sana. Sudah seharusnya kita menyusun ilmu baru, menjadi PRODUSEN ILMU. Kita pertanian dan kita Islam. Kalau bukan kita siapa lagi !!

DAFTAR ISI
Bab I. Pendahuluan
1.1. “Maksain” menulis
1.2. Materi dan struktur isi buku
1.3. Metode penulisan
Bab II. Islam dan Pertanian
2.1. Allah yang menghidupkan tanaman
2.2. Para Rasul pun bertani
2.3. Sumbangan peradaban Islam pada pertanian dunia
2.4. Adab bertani Islami
2.5. Adab terhadap hewan dan ternak

Bab III. Menjalankan Pertanian: Bertani yang Islami
3.1. Pada awalnya: tanah dan air
3.2. Sewa menyewa tanah pertanian
3.3. Bagi hasil pertanian
3.4. Gadai lahan pertanian
3.5. Upah dan adab terhadap buruh tani
3.6. Zakat hasil pertanian
3.7. “Kearifan Timur Reforma Agraria”

Bab IV. Sosial Ekonomi Pertanian Islam
4.1. Ilmu Ekonomi dan Ekonomi Pertanian
4.2. Menjalankan agribisnis secara syariah
4.3. Pembiayaan usaha pertanian yang syariah

Bab V. Makan dan Minum lah sesuai Islam
5.1. Halal dan haram nya makanan
5.2. Adab Makan dan Minum
5.3. Memasak secara Islami

Bab VI. Adab Berdagang dalam Islam
6.1. Nabi, Rasul dan Sahabat yang berdagang
6.2. Penyebar Islam ke Nusantara adalah pedagang-pedagang ulung
6.3. Etika berdagang Rasul
6.4. Boleh dan tidak boleh dalam berdagang hasil pertanian

Dowload full pdf disini:

Versi blog disini:

******

Rabu, 22 April 2020

Mohon dukungan buku baru "Bertani dan Bedagang Secara Islami"



Bapa Ibu dan rekan-rekan yang baik hati,
Assalammualaikum wr wb.

Mohon maaf. Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan kemampuan,  Saya mencoba menyusun draft buku, yang berjudul “BERTANI DAN BERDAGANG SECARA ISLAMI”. Saya menyebut ini merupakan Seri Buku “Sosial Ekonomi Pertanian Islam”. Sungguh sebutan yang gagah dan keren. Hehe.

Kenapa gagah? Ya, karena sampai hari ini saya kok belum ketemu frasa-farasa penting ini di google, yakni “Ekonomi Pertanian Islam”, "Sosial Ekonomi Pertanian Islam", “Islamic Agriculture Socio-economic”, “Islamic food economy”, “Islamic food security”, “Islamic land reform”, “Islamic agrarian reform” dan sejenisnnya.

Artinya, ini kan bisa menjadi pioneer untuk menyumbang kepada diskursus lebih ramai ke depan. InsyaAllah, aamiin. 

Namun, walau sudah dikerjakan sekian tahun, draft ini masih sangat lemah. Maklumlah, ilmu agama Saya ga bagus. Bahan-bahan buku ini saya ambil dari berbagai referensi, utamanya dari internet dan buku serta jurnal-jurnal. Namun, tetap saja Saya merasa ini belum bagus.



Saya merasa semangat untuk segera mendraftkan buku ini, gegara melihat respon yang sangat mengharukan dari teman2 di status FB Saya per 13 April 2020. Ada 350 lebih respon dan 320 komentar, serta 19 kali dibagikan. Teman-teman yang sudah sangat lama ga nongol, bahkan yang belum friend pun memberi dukungan untuk buku ini. Mendoakan, memesan, bahkan sudah siap transfer segala. Sungguh amazing.

Namun, sebelum dicetak dan dipublish, Saya minta tolong kepada Bapa Ibu dan Rekan yang punya waktu untuk membaca, mengkritisi, melengkapi, meluruskan, dan menyempurnakan draft buku ini. InsyaAllah segala bantuan Bapa Ibu dan Rekan menjadi amal soleh dan akan dibalas dengan pahala yang sangat banyak dari Allah SWT. Aamiin.

Link draft buku ini ada disini:

Ini tentu bukan kerjaan mudah. Dan Saya tidak akan menanggung sendiri tugas ini. Saya, Anda dan Bapak Ibu semua akan bersama-sama memikirkan, mendiskusikan, mengkonstruksi, dan mempublikasikan nya.
Demikian kira-kira. Jika berkenaan, mohon boleh menyampaikan masukan ke email berikut: yutisyahyuti@gmail.com
Terima kasih, hatur nuhun pisan.

Bogor 23 April 2020

SYAHYUTI

Jumat, 17 Januari 2020

HUTAN harus jadi objek REFORMA AGRARIA

2/3 daratan Indonesia disebut sbg "KAWASAN HUTAN", tapi hanya menyumbang 1% PDRB. Yang 1/3 menyumbang 99%. Di sini pertanian dan pangan muter2, berebut lahan. Jelas, kebijakan ini ga manfaat. Tanah segitu luas dikangkangi tp ga diurus.


Maka, REFORMA AGRARIA mestinya, mulai sekarang, harus dialamatkan pada HUTAN ini. Kaw hutan mau tak mau harus mau dijadikan LAHAN PERTANIAN. Ga ada alasan menolak. Perut bangsa ini perlu hutan anda. Begitu dah kira2 maksud tulisan ini: https://www.wartaekonomi.co.id/read266627/reforma-agraria-terhambat-gara-gara-kebijakan-kawasan-hutan.html/0

 Salut utk para Profesor, akademisi, pengamat, penggerak, birokrat, praktisi dll pihak di acara yg menggagas dan "berani" di simposium yg sangat keren ini. Sebuah terobosan hebat dari "KEBUNTUAN" diskursus reforma agraria selama ini. 


Doa kami, semoga ini segera terwujud. Dewi swasembada dan kedaulatan petani atas pangan. Aamiin.

Rabu, 04 Desember 2019

Apakah ekonomi pangan Islami ?

Ilmu ekonomi udah umum difahami. Lalu datang ilmu ekonomi pertanian, yg sedikit banyak "diturunkan" dari ilmu ekonomi. Kalau ga salah, ekonomi disusun dari barang2 manufaktur. Barang pertanian bergantung tanah, air, sinar matahari, iklim dll. Beda.

 Namun, bagaimana dengan "ekonomi pangan" ? Karena pertanian ga hanya pangan. Luas. Jika disearch dengan google , food economy atau economi of food belum begitu jelas terbaca seperti apa bangun teori nya. Lebih spesifik lagi, untuk "pangan pokok" (staple food), tentu nya ga bisa hanya sekedar turun menurun dari teori ekonomi, ke ekonomi pertanian, dan lanjut ke ekonomi pangan. Di track yg lain, kita sudah sering dengar "ekonomi Islam", yg sering juga masih ada yg mendekati nya dengan mencari2 bentuk nya dengan mengkomparasi antara ekonomi kapitalis dan sosialis misalnya. Belum betul2 disusun secara bebas dengan basis ayat2 Alquran dan hadist.

Maka, jika kita kawinkan kedua track ini, muncul pertanyaan besar: apakah itu "EKONOMI PANGAN ISLAMI" ?? Tentu di google sampai semalam ini belum ada Islamic food economy. Bro, kira kira ada perlu nya kah kita berfikir apa itu ekonomi pangan Islam? Saya berkeyakinan kita perlu merumuskan ini: bagaimana Islam mengatur pangan pokok dalam satu masy? Saya menduga Islam tidak rela jika kita menjadikan pangan pokok sebagai barang pasar.

Mestinya ia dikelola secara berbeda. Kelaparan terbukti ga beres diurus melalui mekanisme pasar. Ga manusiawi jika urusan perut dikalkulasikan dengan matematika fulus. Ini bagi saya pribadi semua masih sebatas TANYA belaka.

Namun, ...... apakah KEGELISAHAN ini perlu?

Rabu, 06 November 2019

KELEMBAGAAN untuk Korporasi



Apa “kelembagaan”?
Kelembagaan memiliki banyak makna. Yang paling luas adalah bermakna = social relation. Segala urusan yang memaksa dua orang harus berinteraksi karena sesuatu hal = merupakan urusan kelembagaan. Maka, ada yang menyebut bahwa kelembagaan seluas sosiologi itu sendiri. Bukan lagi sekedar cabangnya sosiologi.
Pengertian yang agak sempit, adalah segala sesuatu yang membuat relasi sosial efektif. Kelembagaan disebut efektif bila transaction cost rendah.
Kalau “organisasi” lebih mudah difahami. Social organization = segala sesuatu yang ada pengurusnya, ketua, sekretaris, anggota. Dibentuk kapan, untuk tujuan apa. Itu lah dia kelompok tani, Gapoktan, koperasi, P3A, UPJA, dll.
Kekeliruan selama ini, membuat atau membenahi organisasi sering diklaim telah menyelesaikan urusan kelembagaan. Padahal BELUM.
Simplenya, kelembagaan = bagaimana menyelesaikan masalah. Ada 3 pertanyaan pokok, jangan dibolak balik ya: apa yang mau dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang akan melakukan? Ukurannya adalah mana yang paling baik secara teknis, ekonomi, dan manajerial.
Ga semua harus dibereskan di koperasi. Ada yang bisa diselesaikan melalui:
(1)   Sendiri oleh petani sendiri (menabur benih misalnya),
(2)   Atau harus berelasi dengan orang lain namun berupa individual relation. Misalnya beli obat tikus dari kios saprodi, menghubungi buruh tani untuk membantu macul mopok galeng, dll
(3)   Atau, melalui collective relation. Ya itu dia melalui kelompok tani, koperasi, dll. Disini petani MEWAKILKAN tindakannya ke pihak lain.
Ga semua harus melalui nomor 3, walau kita selalu berfikiran (sadar ga sadar) bahwa BERORGANISASI merupakan cara yang paling ideal.
Untuk pemaknaan lebih simple, “kelembagaan ...... ” diikuti kata kerja, misal “kelembagaan penyediaan benih”, “kelembegaan penyediaan TK”, “kelembagaan pemasaran”, dll. Maka ada “marketting institution” di google.
Kalo “kelembagaan petani” = SALAH. Buktinya, di google ga ada “farmer institution”.
Kalo “organisasi .... “ diikuti kata benda. “Organisasi petani” = OKE.
Apa “tugas tim kelembagaan” ?
Kelembagaan dapat dimaknai secara agak luas. Mencakup dua track sekaligus = track BISNIS dan track ORGANISASI.
Jadi, kelembagaan jangan dibatasi hanya sekedar organization. Tidak sekedar membenahi kelompok tani, ganti pengurus Gapoktan, benahi P3A, atau bikin 3 atau 5 koperasi. Namun, lebih kepada bagaimana bisnis nya berjalan dulu. Apa bisnis yang akan kita buat, apa itu mungkin sec teknis, apa lebih untung, berapa potensi pendapatan, dan lalu siapa yang akan menjalankan.
Setelah kira-kira bisnis jalan, baru organisasi nya akan dibentuk. Begitu.
Berkenaan dengan organisasi, tidak harus dibikin buru-buru. Kenapa? :
1.    Jangan bikin organisasi sebelum bisnis yang akan diurusnya jelas bentuknya. Ntar jadi “koperasi pepesan kosong”. Bikin koperasi kalo dipaksa 2 minggu juga bisa, tapi kemudian nol ga ada kegiatan. Pastinya akan bubar juga.
2.    Jangan buru-buru, kuatir salah orang. Sekali seseorang sudah diangkat, tapi ternyata ga capable ga jujur dll; kan berabe. Jadi sambil mengembangkan bisnis kita lirik-lirik siapa nih yang pas untuk jadi ketua koperasi ntar nya.
Berkenaan dengan bentuk badan hukum korporasi
Ada dua pilihan. Bisa koperasi atau perusahaan. Dua-duanya adalah aktor ekonomi. Sama-sama cari keuntungan, berfikir secara ekonomi juga, efisiensi penting.  Jangan ada fikiran bahwa koperasi seolah sosial, kalau perusahaan bisnis. Dua-dua nya bisnis.
Bedanya lebih kurang, pada aspek internalnya. Kalau di koperasi di dalamnya masih kekeluargaaan lah, ga saklek-saklek amat. Kalau di perusahaan, semua urusan di dalam juga harus formal. Dicatat, resmi, penuh hitungan, dst.
Selain itu, kata-kata orang, urusan pajaknya koperasi lebih simple dibanding perusahaan.
Apa tulang nya kelembagaaan korporasi? : BISNIS
Ya, korporasi adalah bisnis, bekerja secara bsinis, makanya menata kelembagaannya pun secara dari bisnis nya apa. Maka gambarkan kegiatan dari bisnis nya dulu, lalu siapa yang akan menjalankan, dan bagaimana akan dijalankan.
Pertimbangannya ada 3: secara teknis bagaimana cara yang paling mudah, secara ekonomi mana cara yang paling menguntungkan atau yang paling menekan biaya, dan secara manajerial mana yang paling sanggup.  
****

Kelembagaan Korporasi


Seminar hasil sementara di Kementan Studi Rancangan Kelembagaan Agribisnis dan Korporasi pada calon lokasi Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani). Seminar dibuka Pak Sekjend, dihadiri Staf Ahli Menteri, Kep Biro Perencanaan, Kapus, para Prof, peneliti, dan staf-staf Kementan.
Intinya kelembagaan bukan pada terbentuknya kelompok tani, Gapoktan, atau perusahaan dan korporasi; tapi pada RELASI yang EFEKTIF. Menurut Teori New Institutionalism (Richard Scott), pilar kelembagaan adalah normatif, regulatif, kultural kognitif, dan organisasi. Keempat nya adalah demi tercapai nya relasi yang efektif, yakni terpola, predictable, berbiaya murah, dst. 

Contoh relasi yg efektif: jika petani mau menjual gabahnya, pembeli ada, langsung datang saat ditelp, harga yang ditawarkan bagus, langsung bayar tunai, timbangan tepat, dst. Efisien. Efektif.
Bukan soal siapa yang belinya, boleh tengkulak, boleh koperasi, boleh korporasi, boleh saja Gapoktan. Jadi bukan aktornya yang penting, tapi perilakunya.

Bayangkan sebuah masyarakat terdiri dari TITIK (mewakili aktor) dan GARIS (mewakili relasi antar aktor), maka kelembagaan fokus pada GARIS. Ilmu kelembagaan percaya bahwa urusan di tengah masyarakat bisa diselesaikan dengan memperbaiki RELASI antar manusia nya. Bukan pada human capital nya, tapi pada social capital nya. Begitu kira2 point nya.

Untuk membedakan secara mudah: kelembagaan selalu diikuti kata kerja, misalnya "kelembagaan pelayanan jasa Alsintan". Kalo organisasi diikuti kata benda. Misalnya: "organisasi UPJA".
Ingat, salah ya menyebut "kelembagaan petani". Di google ga ada "farmer institution". Yang benar: "organisasi petani". di google bejibun "farmer organization". Kira-kira begitu dah. Punten, agak agak terkesan ngajarin.

Selengkapnya silahkan liat2 hasil sementara ini di: https://www.slideshare.net/syahy…/seminar-kementan-rawa-yuti

****

Bagaimana mengukur kelembagaan?


Lagi tentang "kelembagaan" dan "organisasi". Mudah2 an semenjak hari ini tidak ada lagi sengketa antara kita tentang ini. Belajar bareng teman-teman penyuluh BPTP se Indonesia. Mungkin ada yg mau liat2 bahan presentasi, monggo: https://www.slideshare.net/…/metode-kelembagaan-penyuluhan-…
 
Juga ada contoh kuesioner untuk melihar ORGANISASI (Organizational assessment tool: https://www.slideshare.net/…/organization-assessment-tool-y…) versus kuesioner untuk menilai kapasitas KELEMBAGAAN agribisnis (Institutional assessment tool: https://www.slideshare.net/…/institutional-assessment-tool-…).

Ya, kita upayakan agak lebih kuantitatif. Semua coba diangkakan, maka kita menyebutnya assessment tool. Biar lebih terukur, dan mudah dikomparasi, mudah dimonitoring juga.

****