Ilmu ekonomi udah umum difahami. Lalu datang ilmu ekonomi pertanian, yg sedikit banyak "diturunkan" dari ilmu ekonomi. Kalau ga salah, ekonomi disusun dari barang2 manufaktur. Barang pertanian bergantung tanah, air, sinar matahari, iklim dll. Beda.
Namun, bagaimana dengan "ekonomi pangan" ? Karena pertanian ga hanya pangan. Luas.
Jika disearch dengan google , food economy atau economi of food belum begitu jelas terbaca seperti apa bangun teori nya. Lebih spesifik lagi, untuk "pangan pokok" (staple food), tentu nya ga bisa hanya sekedar turun menurun dari teori ekonomi, ke ekonomi pertanian, dan lanjut ke ekonomi pangan.
Di track yg lain, kita sudah sering dengar "ekonomi Islam", yg sering juga masih ada yg mendekati nya dengan mencari2 bentuk nya dengan mengkomparasi antara ekonomi kapitalis dan sosialis misalnya. Belum betul2 disusun secara bebas dengan basis ayat2 Alquran dan hadist.
Maka, jika kita kawinkan kedua track ini, muncul pertanyaan besar: apakah itu "EKONOMI PANGAN ISLAMI" ?? Tentu di google sampai semalam ini belum ada Islamic food economy.
Bro, kira kira ada perlu nya kah kita berfikir apa itu ekonomi pangan Islam? Saya berkeyakinan kita perlu merumuskan ini: bagaimana Islam mengatur pangan pokok dalam satu masy? Saya menduga Islam tidak rela jika kita menjadikan pangan pokok sebagai barang pasar.
Mestinya ia dikelola secara berbeda. Kelaparan terbukti ga beres diurus melalui mekanisme pasar. Ga manusiawi jika urusan perut dikalkulasikan dengan matematika fulus.
Ini bagi saya pribadi semua masih sebatas TANYA belaka.
Namun, ...... apakah KEGELISAHAN ini perlu?
Blog ini berisi pendapat pribadi saya tentang kondisi pertanian secara umum yang sedang kita hadapi, sesuai dengan latar saya sebagai peneliti bidang Sosiologi Pertanian.
agraria
(11)
agribisnis
(6)
agriculture
(3)
agriculture innovation system
(1)
AIS
(1)
ASEAN
(1)
badan riset dan inovasi nasional
(1)
balai penyuluhan pertanian
(1)
beras
(1)
berdagang secara Islami
(1)
bertani dan berdagang secara Islami
(1)
bertani secara Islami
(1)
big data
(1)
bisnis
(1)
BPP
(1)
BRIN
(1)
buku
(2)
Buku Pertanian dunia 2020
(1)
demo
(1)
ekonomi pertanian islam
(1)
family farming
(1)
food security
(1)
food sovereignity
(1)
hak petani
(2)
hukum adat
(2)
ilmu
(1)
inovasi
(1)
Iptek
(1)
Islam untuk petani
(1)
islamic agricultural economy
(1)
islamic agricultural socioeconomic
(1)
islamic food economy
(1)
kebijakan
(19)
kecamatan
(1)
kedaulatan pangan
(6)
kedaulatan petani atas pangan
(2)
kelembagaan
(23)
ketahanan pangan
(4)
konflik agaria
(4)
koperasi
(2)
korporasi
(5)
korporasi petani
(5)
korupsi
(2)
KPK
(1)
landreform
(1)
lembaga
(18)
mahasiswa
(1)
nelayan
(2)
organisasi
(23)
organisasi petani
(4)
pangan
(2)
partisipasi
(1)
pedagang
(4)
pedesaan
(4)
pembangunan
(11)
pembangunan pertanian
(3)
pembaruan agraria
(2)
pemberdayaan
(5)
pembiayaan
(1)
pendekatan pembangunan
(14)
penelitian
(2)
pengetahuan
(1)
pengukuran kelembagaan
(2)
pengukuran organisasi
(2)
penyuluh
(7)
penyuluhan pertanian
(2)
penyuluhan pertanian swasta
(2)
perdagangan
(1)
pertanian
(1)
petani
(15)
petani bermartabat
(1)
petani kecil
(5)
pintar
(1)
PPP
(1)
Program Serasi
(1)
public-private partnership
(1)
rawa
(1)
reforma agraria
(1)
sistem
(1)
sistem inovasi
(1)
sistem inovasi pertanian
(1)
social capital
(4)
sosial ekonomi pertanian islam
(1)
sosiologi pertanian islam
(1)
syariah
(1)
teori
(17)
valorisasi
(1)
Rabu, 04 Desember 2019
Rabu, 06 November 2019
KELEMBAGAAN untuk Korporasi
Apa “kelembagaan”?
Kelembagaan memiliki
banyak makna. Yang paling luas adalah bermakna = social relation. Segala urusan
yang memaksa dua orang harus berinteraksi karena sesuatu hal = merupakan urusan
kelembagaan. Maka, ada yang menyebut bahwa kelembagaan seluas sosiologi itu
sendiri. Bukan lagi sekedar cabangnya sosiologi.
Pengertian yang agak
sempit, adalah segala sesuatu yang membuat relasi sosial efektif. Kelembagaan
disebut efektif bila transaction cost rendah.
Kalau “organisasi”
lebih mudah difahami. Social organization = segala sesuatu yang ada
pengurusnya, ketua, sekretaris, anggota. Dibentuk kapan, untuk tujuan apa. Itu
lah dia kelompok tani, Gapoktan, koperasi, P3A, UPJA, dll.
Kekeliruan selama
ini, membuat atau membenahi organisasi sering diklaim telah menyelesaikan
urusan kelembagaan. Padahal BELUM.
Simplenya,
kelembagaan = bagaimana menyelesaikan masalah. Ada 3 pertanyaan pokok, jangan
dibolak balik ya: apa yang mau dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang
akan melakukan? Ukurannya adalah mana yang paling baik secara teknis, ekonomi,
dan manajerial.
Ga semua harus
dibereskan di koperasi. Ada yang bisa diselesaikan melalui:
(1)
Sendiri oleh petani sendiri (menabur benih
misalnya),
(2)
Atau harus berelasi dengan orang lain namun
berupa individual relation. Misalnya beli obat tikus dari kios saprodi,
menghubungi buruh tani untuk membantu macul mopok galeng, dll
(3)
Atau, melalui collective relation. Ya itu dia
melalui kelompok tani, koperasi, dll. Disini petani MEWAKILKAN tindakannya ke
pihak lain.
Ga semua harus
melalui nomor 3, walau kita selalu berfikiran (sadar ga sadar) bahwa
BERORGANISASI merupakan cara yang paling ideal.
Untuk pemaknaan lebih
simple, “kelembagaan ...... ” diikuti kata kerja, misal “kelembagaan penyediaan
benih”, “kelembegaan penyediaan TK”, “kelembagaan pemasaran”, dll. Maka ada
“marketting institution” di google.
Kalo “kelembagaan
petani” = SALAH. Buktinya, di google ga ada “farmer institution”.
Kalo “organisasi ....
“ diikuti kata benda. “Organisasi petani” = OKE.
Apa “tugas tim kelembagaan” ?
Kelembagaan dapat
dimaknai secara agak luas. Mencakup dua track sekaligus = track BISNIS dan track
ORGANISASI.
Jadi, kelembagaan jangan
dibatasi hanya sekedar organization. Tidak sekedar membenahi kelompok tani,
ganti pengurus Gapoktan, benahi P3A, atau bikin 3 atau 5 koperasi. Namun, lebih
kepada bagaimana bisnis nya berjalan dulu. Apa bisnis yang akan kita buat, apa
itu mungkin sec teknis, apa lebih untung, berapa potensi pendapatan, dan lalu
siapa yang akan menjalankan.
Setelah kira-kira
bisnis jalan, baru organisasi nya akan dibentuk. Begitu.
Berkenaan dengan
organisasi, tidak harus dibikin buru-buru. Kenapa? :
1.
Jangan bikin organisasi sebelum bisnis yang akan
diurusnya jelas bentuknya. Ntar jadi “koperasi pepesan kosong”. Bikin koperasi
kalo dipaksa 2 minggu juga bisa, tapi kemudian nol ga ada kegiatan. Pastinya
akan bubar juga.
2.
Jangan buru-buru, kuatir salah orang. Sekali
seseorang sudah diangkat, tapi ternyata ga capable ga jujur dll; kan berabe.
Jadi sambil mengembangkan bisnis kita lirik-lirik siapa nih yang pas untuk jadi
ketua koperasi ntar nya.
Berkenaan dengan bentuk badan hukum korporasi
Ada dua pilihan. Bisa
koperasi atau perusahaan. Dua-duanya adalah aktor ekonomi. Sama-sama cari
keuntungan, berfikir secara ekonomi juga, efisiensi penting. Jangan ada fikiran bahwa koperasi seolah
sosial, kalau perusahaan bisnis. Dua-dua nya bisnis.
Bedanya lebih kurang,
pada aspek internalnya. Kalau di koperasi di dalamnya masih kekeluargaaan lah,
ga saklek-saklek amat. Kalau di perusahaan, semua urusan di dalam juga harus
formal. Dicatat, resmi, penuh hitungan, dst.
Selain itu, kata-kata
orang, urusan pajaknya koperasi lebih simple dibanding perusahaan.
Apa tulang nya kelembagaaan korporasi? : BISNIS
Ya, korporasi adalah
bisnis, bekerja secara bsinis, makanya menata kelembagaannya pun secara dari
bisnis nya apa. Maka gambarkan kegiatan dari bisnis nya dulu, lalu siapa yang
akan menjalankan, dan bagaimana akan dijalankan.
Pertimbangannya ada
3: secara teknis bagaimana cara yang paling mudah, secara ekonomi mana cara
yang paling menguntungkan atau yang paling menekan biaya, dan secara manajerial
mana yang paling sanggup.
****
Kelembagaan Korporasi
Seminar hasil sementara di Kementan Studi Rancangan Kelembagaan Agribisnis dan Korporasi pada calon lokasi Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani). Seminar dibuka Pak Sekjend, dihadiri Staf Ahli Menteri, Kep Biro Perencanaan, Kapus, para Prof, peneliti, dan staf-staf Kementan.
Intinya kelembagaan bukan pada terbentuknya kelompok tani, Gapoktan, atau perusahaan dan korporasi; tapi pada RELASI yang EFEKTIF. Menurut Teori New Institutionalism (Richard Scott), pilar kelembagaan adalah normatif, regulatif, kultural kognitif, dan organisasi. Keempat nya adalah demi tercapai nya relasi yang efektif, yakni terpola, predictable, berbiaya murah, dst.
Contoh relasi yg efektif: jika petani mau menjual gabahnya, pembeli
ada, langsung datang saat ditelp, harga yang ditawarkan bagus, langsung
bayar tunai, timbangan tepat, dst. Efisien. Efektif.
Bukan soal siapa yang belinya, boleh tengkulak, boleh koperasi, boleh korporasi, boleh saja Gapoktan. Jadi bukan aktornya yang penting, tapi perilakunya.
Bayangkan sebuah masyarakat terdiri dari TITIK (mewakili aktor) dan GARIS (mewakili relasi antar aktor), maka kelembagaan fokus pada GARIS. Ilmu kelembagaan percaya bahwa urusan di tengah masyarakat bisa diselesaikan dengan memperbaiki RELASI antar manusia nya. Bukan pada human capital nya, tapi pada social capital nya. Begitu kira2 point nya.
Untuk membedakan secara mudah: kelembagaan selalu diikuti kata kerja, misalnya "kelembagaan pelayanan jasa Alsintan". Kalo organisasi diikuti kata benda. Misalnya: "organisasi UPJA".
Ingat, salah ya menyebut "kelembagaan petani". Di google ga ada "farmer institution". Yang benar: "organisasi petani". di google bejibun "farmer organization". Kira-kira begitu dah. Punten, agak agak terkesan ngajarin.
Selengkapnya silahkan liat2 hasil sementara ini di: https://www.slideshare.net/syahy…/seminar-kementan-rawa-yuti
****
Bukan soal siapa yang belinya, boleh tengkulak, boleh koperasi, boleh korporasi, boleh saja Gapoktan. Jadi bukan aktornya yang penting, tapi perilakunya.
Bayangkan sebuah masyarakat terdiri dari TITIK (mewakili aktor) dan GARIS (mewakili relasi antar aktor), maka kelembagaan fokus pada GARIS. Ilmu kelembagaan percaya bahwa urusan di tengah masyarakat bisa diselesaikan dengan memperbaiki RELASI antar manusia nya. Bukan pada human capital nya, tapi pada social capital nya. Begitu kira2 point nya.
Untuk membedakan secara mudah: kelembagaan selalu diikuti kata kerja, misalnya "kelembagaan pelayanan jasa Alsintan". Kalo organisasi diikuti kata benda. Misalnya: "organisasi UPJA".
Ingat, salah ya menyebut "kelembagaan petani". Di google ga ada "farmer institution". Yang benar: "organisasi petani". di google bejibun "farmer organization". Kira-kira begitu dah. Punten, agak agak terkesan ngajarin.
Selengkapnya silahkan liat2 hasil sementara ini di: https://www.slideshare.net/syahy…/seminar-kementan-rawa-yuti
****
Bagaimana mengukur kelembagaan?
Lagi
tentang "kelembagaan" dan "organisasi". Mudah2 an semenjak hari ini
tidak ada lagi sengketa antara kita tentang ini. Belajar bareng
teman-teman penyuluh BPTP se Indonesia. Mungkin ada yg mau liat2 bahan
presentasi, monggo: https://www.slideshare.net/…/metode-kelembagaan-penyuluhan-…
Juga ada contoh kuesioner untuk melihar ORGANISASI (Organizational assessment tool: https://www.slideshare.net/…/organization-assessment-tool-y…) versus kuesioner untuk menilai kapasitas KELEMBAGAAN agribisnis (Institutional assessment tool: https://www.slideshare.net/…/institutional-assessment-tool-…).
Ya, kita upayakan agak lebih kuantitatif. Semua coba diangkakan, maka kita menyebutnya assessment tool. Biar lebih terukur, dan mudah dikomparasi, mudah dimonitoring juga.
****
Juga ada contoh kuesioner untuk melihar ORGANISASI (Organizational assessment tool: https://www.slideshare.net/…/organization-assessment-tool-y…) versus kuesioner untuk menilai kapasitas KELEMBAGAAN agribisnis (Institutional assessment tool: https://www.slideshare.net/…/institutional-assessment-tool-…).
Ya, kita upayakan agak lebih kuantitatif. Semua coba diangkakan, maka kita menyebutnya assessment tool. Biar lebih terukur, dan mudah dikomparasi, mudah dimonitoring juga.
****
Apa Lembaga, Apa Organisasi ?
Apa itu kelembgaan dan organisasi, bagaimana mengukurnya, dan bagaimana merekayasa kelembagaan dan merekayasa organisasi. Show tunggal 7 jam, hehe semoga mangfaat.
Pada kaget waktu saya katakan penggunaan istilah "kelembagaan" pada UU dan Permentan kleru kabeh. Tidak ada istilah "kelembagaan petani", kerana di google sekalipun ga ada "farmer institution", kalo "farmer organization" banyak. "Marketting institution" ada.
Maka "kelembagaan ....." diikuti kata kerja, kalo "organisasi ......" diikuti kata benda. Begitu dah gampang nya ya. Punten ni sedikit ngajarin. PPL harus menyelesaikan kelembagaan, bukan sekedar bikin kelompok tani. KT, Gapoktan ataupun koperasi, hanya 1 aktor saja dalam menyelesaikan kelmbagaan. Ga harus itu. Pertimbangannya 3: siapa yg paling capable sec teknis, yang lebih provitable, dan jg yg lebih manageable. Kira kira demikian lah.
Silahkan yang perlu bahannya: (1) Perbedaan lembaga dan organisasi (https://www.slideshare.net/…/bangka-tengah-1-kelembagaan-vs…), (2) lembaga dan kelembagaan agribisnis (https://www.slideshare.net/…/bangka-tengah-2-kelembagaan-ag…), dan (3) Korporasi sebagai KEP (https://www.slideshare.net/…/bangka-tengah-3-korporasi-seba…). Juga ada 2 kuesioner: (1) institutional assessment tool (https://www.slideshare.net/…/institutional-assessment-tool-…) dan (2) organizatioan assessment tool (https://www.slideshare.net/…/organization-assessment-tool-y…).
Semoga MANGFAAT, aamiin. ******
Hati Hati di Perang KONSEP
Kita berada pada perang KONSEP : agriculture vs agribussiness vs food security vs food sovereignty vs family farming.
Kita negara berkembang adalah “konsumen konsep”. Apa2 saja dunia tawarkan kita telan, sering tanpa susah-susah mbedainnya. Padahal tiap konsep lahir dari dan mengusung satu ideologi yang saling silang, sikut-sikutan, sering ga sejalan.
Tahun 1950-an lahir agribisnis, diikuti ketahanan pangan 1975 an, food sovereignty lahir 1996, lalu tahun 2012 an keluar family farming. Apa ini iseng, lahir begitu saja? Apakah ini semacam aksi reaksi? Apakah saling meniadakan, ataukah saling melengkapi?
Kita mulai dengan “agriculture vs agribussiness” (https://mauiniapaitusyahyuti.blogspot.com/search…). Ini jelas ga sama. Agriculture mengandung kata “culture”. Bertani adalah jalan hidup, sebagai panggilan hidup dan amanah dari Illahi. Mengolah alam adalah sebuah kehormatan, bukan sekedar pekerjaan. Pada agribisnis: bertani sebagai kegiatan bisnis belaka. Mau tanam apa, mau harga berapa, mau dijual kemana: yang penting mana yang lebih untung. Bertani adalah profesi cari duit. Sejak petani membuka diri pada pasar, saat itulah ia “rawan”, membuka diri untuk diserang.
Agribisnis lahir pasca redanya PD II, tahun 1950-an, ini siasatnya negara maju untuk menguasai sumber daya pertanian di negara berkembang, karena kolonisasi sudah ga mungkin. Lalu, mulai 1975 an datang food security.
Padahal agribisnis dan ketahanan pangan ga segendang seirama lho. (https://mauiniapaitusyahyuti.blogspot.com/…/agribisnis-vs-k…). Kita lama menjadikan kedua ini seolah satu tarikan nafas saja di Kementan. Apa kita pernah bertanya, sebenarnya “agribisnis untuk ketahanan pangan”, ataukah “ketahanan pangan untuk agribisnis”? Yang mana pendekatan, yang mana tujuan? Ketahanan pangan sedikit banyak lahir karena ternyata agribisnis ga menjamin orang-orang kenyang. Rupanya agribisnis ga menyelesaikan masalah.
Lalu keluar food sovereignty (kita secara keliru menerjemahkan menjadi “kedaulatan pangan”, mestinya “Kedaulatan Petani atas Pangan”. Karena ia ga bicara pangan, tapi producers. Ya petani). Ini lahir karena orang melihat food security hanya melihat pangan dan konsumen, kurang merhatiian petani. Pertanian dan pangan berkembang, petani tertinggal di belakang. Orang-orang kota makan enak, petani makan beras sisa. (https://mauiniapaitusyahyuti.blogspot.com/…/ketahanan-panga…).
Eh, terakhir lahir lagi “family farming” (pertani keluarga). Makhluk apa lagi ini? (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/…/…/article/view/8653). Apakah food sovereignty ga cukup, sehingga perlu secara jelas menyebut “family” di situ? Perang masih berlanjut kawan. Hehe, happy week end semua.
*****
Kita negara berkembang adalah “konsumen konsep”. Apa2 saja dunia tawarkan kita telan, sering tanpa susah-susah mbedainnya. Padahal tiap konsep lahir dari dan mengusung satu ideologi yang saling silang, sikut-sikutan, sering ga sejalan.
Tahun 1950-an lahir agribisnis, diikuti ketahanan pangan 1975 an, food sovereignty lahir 1996, lalu tahun 2012 an keluar family farming. Apa ini iseng, lahir begitu saja? Apakah ini semacam aksi reaksi? Apakah saling meniadakan, ataukah saling melengkapi?
Kita mulai dengan “agriculture vs agribussiness” (https://mauiniapaitusyahyuti.blogspot.com/search…). Ini jelas ga sama. Agriculture mengandung kata “culture”. Bertani adalah jalan hidup, sebagai panggilan hidup dan amanah dari Illahi. Mengolah alam adalah sebuah kehormatan, bukan sekedar pekerjaan. Pada agribisnis: bertani sebagai kegiatan bisnis belaka. Mau tanam apa, mau harga berapa, mau dijual kemana: yang penting mana yang lebih untung. Bertani adalah profesi cari duit. Sejak petani membuka diri pada pasar, saat itulah ia “rawan”, membuka diri untuk diserang.
Agribisnis lahir pasca redanya PD II, tahun 1950-an, ini siasatnya negara maju untuk menguasai sumber daya pertanian di negara berkembang, karena kolonisasi sudah ga mungkin. Lalu, mulai 1975 an datang food security.
Padahal agribisnis dan ketahanan pangan ga segendang seirama lho. (https://mauiniapaitusyahyuti.blogspot.com/…/agribisnis-vs-k…). Kita lama menjadikan kedua ini seolah satu tarikan nafas saja di Kementan. Apa kita pernah bertanya, sebenarnya “agribisnis untuk ketahanan pangan”, ataukah “ketahanan pangan untuk agribisnis”? Yang mana pendekatan, yang mana tujuan? Ketahanan pangan sedikit banyak lahir karena ternyata agribisnis ga menjamin orang-orang kenyang. Rupanya agribisnis ga menyelesaikan masalah.
Lalu keluar food sovereignty (kita secara keliru menerjemahkan menjadi “kedaulatan pangan”, mestinya “Kedaulatan Petani atas Pangan”. Karena ia ga bicara pangan, tapi producers. Ya petani). Ini lahir karena orang melihat food security hanya melihat pangan dan konsumen, kurang merhatiian petani. Pertanian dan pangan berkembang, petani tertinggal di belakang. Orang-orang kota makan enak, petani makan beras sisa. (https://mauiniapaitusyahyuti.blogspot.com/…/ketahanan-panga…).
Eh, terakhir lahir lagi “family farming” (pertani keluarga). Makhluk apa lagi ini? (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/…/…/article/view/8653). Apakah food sovereignty ga cukup, sehingga perlu secara jelas menyebut “family” di situ? Perang masih berlanjut kawan. Hehe, happy week end semua.
*****
INDONESIA Kita: Leluhurnya Orang MANGGARAI berasal dari MINANGKABAU (??).
Di Desa Ruteng Puu Kab Manggarai NTT. Puu artinya "batang" atau
"pusat". Ya, disini lah pusat nya suku Manggarai. Menurut penuturan Bapa
Tua, dan sebgmana juga diakui orang2 Manggarai umumnya, leluhur mereka
adalah orang Minangkabau. Dan di desa ini lah leluhur tsb pertama
tinggal.
Sebagai orang Minang saya pun terkaget2. Hehe. Dengan sedikit pendekatan antropologis, saya coba buktikan. Rupanya betul, setidaknya ini terlihat dari destar nya Bapa Tua yg unik Minang, mirip2 destarnya Datuk. Juga ada gong yg digantung sbg benda adat di rumah gendang, dan tanduk kerbau di ujung atap rumah gendang. Ini rumah adat nya orang Manggarai. Setiap beo (kampung) punya banyak rumah adat ini. Satu rumah adat ada satu Tua Golo atau Tua Gendang.
Sebagai orang Minang saya pun terkaget2. Hehe. Dengan sedikit pendekatan antropologis, saya coba buktikan. Rupanya betul, setidaknya ini terlihat dari destar nya Bapa Tua yg unik Minang, mirip2 destarnya Datuk. Juga ada gong yg digantung sbg benda adat di rumah gendang, dan tanduk kerbau di ujung atap rumah gendang. Ini rumah adat nya orang Manggarai. Setiap beo (kampung) punya banyak rumah adat ini. Satu rumah adat ada satu Tua Golo atau Tua Gendang.
Meskipun ga boleh diperlihatkan ke umum, bapa Tua cerita bahwa mereka
masih simpan benda2 pusaka yg asli Minang yaitu keris Minang yg khas,
carano, kotak tempat simpan sirih pinang, dll. Beberapa kata yg mirip2
bahasa Minang masih bisa dijumpai disini.
Namun, masih banyak pertanyaan: kapan leluhur Minang ini ke Flores? Saya duga sebelum Islam masuk ke Sumbar.
Gelombang berikutnya adalah para perantau warung Pandang, utamanya dari Toboh dan Pungguang Kasiak (Piaman Laweh), yg saat ini warungnya di Kota Ruteng saja ada puluhan. Para perantau ini mulai tahuan 1980 an atau bahkan sebelumnya. Salut utk para pejuang2 ekonomi kuliner nusantara ini.
Jadi, ....... "Bapa Lambardus kita bersaudara rupanya". Torang samua basaudara. Dirgahayu Indonesia tercinta yg ke 74.
*****
Namun, masih banyak pertanyaan: kapan leluhur Minang ini ke Flores? Saya duga sebelum Islam masuk ke Sumbar.
Gelombang berikutnya adalah para perantau warung Pandang, utamanya dari Toboh dan Pungguang Kasiak (Piaman Laweh), yg saat ini warungnya di Kota Ruteng saja ada puluhan. Para perantau ini mulai tahuan 1980 an atau bahkan sebelumnya. Salut utk para pejuang2 ekonomi kuliner nusantara ini.
Jadi, ....... "Bapa Lambardus kita bersaudara rupanya". Torang samua basaudara. Dirgahayu Indonesia tercinta yg ke 74.
*****
Langganan:
Postingan (Atom)